Selamat Datang di Sistem Siaga Kebakaran

Kebakaran semak dan hutan di daerah hutan tropis dengan biodiversitas tinggi telah menjadi hal yang sangat dikhawatirkan oleh banyak negara dikarenakan oleh dampak ekologi, ekonomi, dan kesehatan masyarakat dari kebakaran tersebut yang semakin meningkat. Menurut PBB, "kebakaran lahan, semak, dan hutan yang tidak diawasi semakin lama menjadi sumber bencana yang kian meningkat di tingkat regional maupun global," (UNDAC 1998). Kebakaran hutan memiliki banyak penyebab, diantaranya pembakaran untuk pertanian, pembabatan lahan oleh penduduk, dan pembatasan alam liar. Kebakaran hutan seringkali diperparah oleh musim kering berkepanjangan atau kemarau, yang mungkin terkait dengan El Niño Southern Oscillation (ENSO).


Center for Applied Biodiversity Science (CABS) di Conservation International, International Resources Group (IRG), Ministere de L'Environnment des Eaux et Forets (MEFT) di Madagascar, dan US Agency for International Development (USAID) telah bekerja sama dengan Sistem Respon Cepat MODIS dan Fire Information for Resource Management System (FIRMS) milik Universitas Maryland untuk mengembangkan sistem peringatan kebakaran berbasis surat elektronik di dalam atau di sekitar area yang dilindungi dan area yang penting secara biologis.


Area di mana sistem tersebut saat ini aktif (area yang lain akan ditambahkan seiring perkembangan sistem ini - mohon cek kembali untuk perkembangan terbaru):


Indonesia


Flora dan fauna Indonesia yang sangat menakjubkan sudad semakin terancam karena ledakan pertumbuhan industri kehutanan sampai perdagangan internasional yang menuntut pemanfaatan harimau, kera, dan kura-kura untuk makanan dan obat-obatan di beberapa negara. Populasi Orangutan yang ditemukan di daerah-daerah kaya biodiversitas telah mengalami penurunan yang cukup dramatis. Beberapa dari spesis terakhir badak Asia Tenggara hanya ditemukan di Jawa dan Sumatera.


Seperti daerah pada umumnya daerah tropis, di Indonesia api adalah alat utama untuk pembersihan lahan bekas tebangan hutan untuk penggunaan komersial, termasuk pembukaan perkebunan yang akan menghasilkan karet, kelapa sawit, dan bubur kertas. Selama periode 1997-1998, kombinasi kekeringan ekstrim yang dipicu oleh El Nino telah menyebabkan luas api menjadi tak terkendali, kerusakan hampir 10 juta hektar hutan tropis dan pemaparan asap dialami oleh 20 juta orang di seluruh Asia Tenggara dapat membahayakan kehidupan karena polusi yang ditimbulkannya. (Barber dan Schweithelm 2000).


Untuk memperkuat penegakan hukum kawasan lindung di pulau Sumatra dan Kalimantan, CI (Conservation International) telah mensosialisasikan sistem siaga kebakaran dan perambahan liar secara hampir real-time di Indonesia; kepada pemerintah maupun LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang bekerja sebagai pengelola kawasan, sehingga dapat menyatukan informasi satélit ini, sistem pengawasan (patroli) dan perencanaan kawasan.


Madagaskar


Madagaskar adalah pulau keempat terbesar di dunia, sekaligus habitat untuk cakupan biodiversitas yang sangat tinggi. Sebanyak 22 famili tetumbuhan dan binatang endemik hanya dapat ditemukan di pulau ini; hal ini menjadikan Madagaskar salah satu pulau dengan biodiversitas terkaya. Setiap tahun terjadi kebakaran di area yang cukup luas di Madagaskar yang menghancurkan banyak lahan pertanian, padang rumput, dan hutan. Angka yang akurat sulit diperoleh, tetapi Penilaian Sumber Daya Hutan Global FAO di tahun 2005 memperkirakan sebanyak 33.000 hektar hutan dan 839.000 hektar areal pohon berkayu dirusak oleh kebakaran di tahun 2000 (FAO, 2005).


Dampak dari kebakaran dapat merusak dan dramatis untuk manusia maupun kehidupan alam liar. Kebakaran dapat mempengaruhi perubahan tipe jenis lahan dan mengubah siklus nutrisi tanah. Lebih penting lagi, di pulau yang terkenal dengan biodiversitasnya ini, pola pertanian tebang-dan-bakar adalah penyebab utama deforestasi dan hilangnya habitat (Kull 2004). Supaya kita mampu mendokumentasikan efek kebakaran pada ekosistem dan mengukur potensi dampak ekologinya, adalah penting untuk memiliki akses ke data kebakaran waktu-sebenar (real-time).


Karena respon cepat dan mitigasi adalah kunci untuk membatasi kebakaran hutan, tujuan dari sistem ini adalah untuk menghubungkan observasi satelit waktu-sebenar akan kebakaran hutan dengan berbagai kantor pemerintahan, LSM, dan organisasi komunitas yang bertanggung jawab atas manajemen sumber daya alam, pembatasan kebakaran dan pembangunan ekonomi berkelanjutan.


Bolivia dan Peru


Bolivia dan Peru merupakan bagian dari daerah Tropis Andes, yang terkaya dan paling tinggi keanekaragaman hatinya di dunia. Daerah Tropis Andes memiliki urutan keenam terbanyak jumlah spesies tumbuhannya yang meliputi kurang dari 1% daratan di dunia. Meskipun hanya seperempat habitatnya yang tersisa, daerah ini masih terus menghadapi berbagai macam ancaman termasuk pertambangan, ekstraksi kayu, eksplorasi minyak bumi, dan kebun-kebun yang menghasilkan bahan-bahan narkotika, sehingga memperluas dan memperbanyak pertumbuhan kota-kota besar di wilayah ini.


Di Peru, sistem pertanaian tebang dan bakar merupakan ancaman yang sangat nyata terhadap keberadaan hutan tropis yang memilki nilai keanekaragaman hayati tinggi, sementara di Bolivia, bertambahnya luas kebakaran hutan merupakan akibat dari perluasan lahan pertanian dan peternakan, demikian juga bertambahnya luasan padang rumput alami pasca kebakaran hutan. Selama musim kemarau, mulai dari Juni sampai November, proyek Pengeloaan Hutan BOLFOR memperkirakan bahwa lebih dari 100.000 hektar per tahun kebakaran lahan dan hutan terjadi di Bolivia (International Forest Fire News No 28).


Pilih Daftar atau Masuk untuk mengakses sumber penting ini.


Untuk akses ke data global, mohon kunjungi: Fire Information for Resource Management System (FIRMS), Universitas Maryland.


Kull, Christian A. Isle of Fire: The Political Ecology of Landscape Burning in Madagascar. Chicago, IL: University of Chicago, 2004.